Pilih Menu

Berita UKM

Registrasi Profil Terbaru

Bisnis UKM

Profil UKM

Berita UKM

Profil UKM

Inspirasi Usaha

Videos

Dulu, menjadi pengusaha tak pernah sekalipun terlintas di benak Liche Lidiawati. Selepas SMA, dia memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Namun, siapa sangka, kini Liche muncul sebagai pengusaha kue kering yang sukses mengantongi omzet miliaran rupiah saban tahun.

Bakat memasak sudah terlihat pada diri Liche sejak duduk di bangku SMA. Memiliki ibu yang hobi memasak, secara tak sengaja, menumbuhkan kecintaan Liche pada dunia masak-memasak. Lantas, sejak punya anak, Liche makin sering terjun di dapur, terutama untuk membuat kue kering.

Awalnya saya hanya mengkreasikan makanan yang disukai anak-anak menjadi kue kering, seperti sereal coco crunch,” kisah perempuan yang 30 tahun menjadi dokter gigi di Pertamina ini.

Liche pun mengisahkan, dulu kue kering dibuat berdasarkan resep milik sang ibu. Ia sama sekali tak pernah ikut les membuat kue karena menurutnya resep dari ibunya sudah cukup.

Ternyata, penggemar kue kering bikinan Liche tak terbatas pada ketiga orang putranya. Banyak teman kantornya juga menyukai kue buatan Liche. Lantas, sejak 1996, Liche mulai menjual kue kering secara terbatas dengan harga Rp 5.000 per stoples.

Setiap hari sepulang kerja, mulai pukul 18.00 hingga 01.00, Liche membuat kue pesanan teman-temannya. Ketika pesanan bertambah banyak, dia melibatkan tiga  asisten rumah tangganya.

Lantaran rasa yang enak dan gurih, kue kering buatan Liche semakin laku. Order kue kering pun membeludak. Padahal ia mengaku tidak pernah menawarkan kue kering kepada orang-orang. Justru, konsumen yang rajin untuk merekomendasikan kue Liche kepada orang-orang.

Ketika krisis moneter melambungkan harga bahan baku kue, Liche sempat berpikir untuk mengerem laju usahanya dan mengurangi produksi. Akan tetapi, di luar dugaan, banyak konsumen yang justru mencari kue kering buatannya untuk Lebaran, meski harganya naik. Dari situlah, Liche menyadari tingginya kebutuhan kue kering pada saat Hari Raya.

Tak mau melewatkan kesempatan, Liche menambah karyawannya menjadi 10 orang. Dia juga membeli rumah persis di samping rumahnya untuk memperluas tempat produksi.

Tahun 2000-an, Liche mulai menerapkan sistem keagenan. “Pesanan selalu banyak. Akan tetapi, karena ini bisnis hobi, saya tidak terlalu memusingkan manajemen,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1955, ini. Saat itu, agen kue Liche hanyalah orang-orang yang ia kenal di tempat kerja.

Makin serius menekuni bisnisnya, Liche pun terus menambah varian kue kering. Beragam bahan baku, seperti buah-buahan, kacang hijau, dan cokelat, ia racik menjadi varian baru kue kering. Liche mengatakan, kakak iparnya, yang juga pembuat kue, kerap memberi masukan untuk resep dan ide kue baru.

Semakin besar bisnis, jumlah karyawan Liche terus bertambah, begitu juga dengan kapasitas produksinya. Pada 2002, dia mendirikan pabrik seluas 600 meter persegi untuk menampung sekitar 80 karyawan. Tak tanggung-tanggung, Liche membenamkan investasi hingga Rp 1 miliar, di antaranya untuk membeli tiga oven. 

Manajemen rapi

Setelah delapan tahun bergelut dalam usaha kue kering, barulah Liche membubuhi merek kue buatannya. Ia memilih Yorya yang merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya, Adya Kemara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Pada 2009, nama itu baru dipatenkan sebagai merek usaha.

Liche mengakui, usaha kue kering merupakan usaha musiman karena orang tidak membeli kue jenis ini setiap hari. Puncak penjualan baru tiba saat Lebaran dan Natal. Namun, Liche meyakini, kue kering pasti jadi kebutuhan selama Hari Raya. “Orang yang tidak punya uang pun bela-belain membeli kue kering,” tuturnya. Terbukti, pesanan kue kering Yorya selalu naik sekitar 15 persen setiap tahun.

Untuk itu, pada bulan-bulan biasa, Liche hanya bisa menjual 50 lusin stoples kue kering. Akan tetapi, saat Lebaran tiba, pesanan melonjak hingga 9.000 lusin kue selama sebulan. Kemudian, pada saat Natal, pesanan kue sekitar 2.000 lusin.

Untuk menyambut Lebaran mendatang, misalnya, Liche mulai memproduksi kue pada akhir Februari. Ia menargetkan penjualan kue kering Yorya mencapai 11.000 lusin. Dari usaha ini, Liche bisa mendapat omzet sekitar Rp 4 miliar saban tahun.

Namun, kini Liche tak sendirian. Selama empat tahun terakhir, anak keduanya, Ryan, membantunya dalam bidang pemasaran. Meskipun masih menempuh studi di Australia, sang anak membuatkan website Yorya Cookies. Ryan jugalah yang mengubah sistem keagenan Yorya.

Saat ini, jika ada orang yang tertarik menjadi agen Yorya, maka mereka bisa memilih dari tiga paket keagenan yang tersedia, yaitu Silver, Gold, dan Platinum. Sebelumnya, jika ingin jadi agen kue Yorya, Liche tidak mengajukan syarat-syarat tertentu. 

Sejak ada situs tersebut, agen kue Yorya meluas dari Aceh hingga Papua. Jumlahnya saat ini sekitar 200 agen. Harga jual kue Yorya untuk agen adalah Rp 47.500–Rp 52.500 per stoples. Adapun harga jual untuk ritel seharga Rp 70.000–Rp 75.000 per stoples.

Liche menambahkan, sekarang persaingan usaha kue kering sangat ketat jika dibandingkan saat ia merintis Yorya. Kondisi ini menantangnya untuk terus berkreasi dengan model-model baru. Sejauh ini, setidaknya 100 varian kue sudah tercipta dari tangan dinginnya. 

Namun, kompetisi ini juga membuatnya rela menurunkan margin keuntungan. Kalau dulu, Liche bisa meraup margin laba hingga 125 persen. Sekarang, dari usaha kue kering, Liche mendapat margin keuntungan sekitar 40 persen. “Margin berkurang tidak apa-apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas,” kata dia.

Sumber & Gambar: bisniskeuangan.kompas.com
- -
Tangerang - Dadang, warga Kelurahan Petir, Tangerang, berhasil mengolah sampah menjadi barang bernilai dengan pendapatan Rp 4 juta sehari. Dadang di Tangerang, akhir pekan lalu mengatakan, sampah olahan dia banyak diminati perusahaan besar di Indonesia.

"Kami menyuplai 30.000 tatakan kipas setiap bulan dan masih kewalahan karena permintaan pasar sangat tinggi, sekitar 200 ribu hingga -250 ribu unit per bulan," ujarnya.

Dijelaskan, sampah yang kerap menjadi masalah dan persoalan bagi daerah Kota Metropolitan, bisa menjadi barang yang mempunyai nilai tinggi. Ditambahkan, dalam kurun waktu satu bulan, pabriknya yang sederhana tersebut bisa mengolah 70.000 ton sampah. "Kami bisa bantu Kota Tangerang dalam mengatasi sampah," ujarnya.

Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah, menambahkan, Kota Tangerang yang berpenduduk hampir dua juta jiwa, menjadi salah satu Kota Metropolitan di Indonesia yang masih bermasalah dengan persoalan sampah.

Oleh karena itu, pemkot Tangerang selama beberapa tahun terakhir terus menggalakkan budaya hidup bersih dikalangan masyarakat melalui program 1.000 Bank Central Sampah (BCS). Lalu Program Tangerang Jempol dan Program Kampung Hijau.

Semua program tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah langsung dari sumbernya atau Zero Waste System. "Permasalahan sampah di kota besar di Indonesia menjadi salah satu tantangan besar saat ini. Sampah yang dihasilkan di Kota Tangerang sebesar 10 ton per hari," kata dia.

sumber & gambar : antaranews.com
-
Hannifa Fitria adalah nama pengusaha muda yang sukses dengan bisnis modal kecil. Bisnis berawal dari ide teman kuliahnya yang sempat tertunda untuk dieksekusi menjadi sebuah bisnis yang nyata, sehingga baru bisa direalisasikan menjadi sebuah bisnis nyata setelah beberapa tahun setelah Hannifa menyelesaikan kuliahnya. Ide tersebut bukanlah ide yang wah, idenya cukuplah sederhana dengan keinginannya untuk mengangkat tema Nusantara pada semua produk yang dihasilkan.

Berawal dari sebuah obrolan santai dengan salah seorang teman semasa kuliahnya mengenai ketertarikannya dengan kekayaan seni yang ada di Indonesia, mulai dari motif hingga cara pembuatan benda-benda tradisional. Kemudian hal tersebut menjurus pada sebuah ide yang tujuannya untuk mengekplorasi dalam hal ini “kenusantaraan” menjadi suatu produk yang kasual dan masa kini sehingga memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Karena kesibukannya selama duduk dibangku kuliah, seperti layaknya mahasiswa yang lain yaitu sibuk pada urusan organisasi kampus ataupun sibuk dengan aktifitas kuliahnya, akhirnya ide pun tertunda dan sempat terbengkalai. Hingga pada akhirnya setelah beberapa tahun setelah selesai kuliah, akhirnya mereka bertemu kembali dan baru sempat untuk merealisasikan ide yang telah ada sebelumnya itu. Hannifa bersama temannya mampu memulai bisnis hanya dengan modal nekat. Betapa tidak, Hannifa memulai bisnis hanya dengan modal usaha yang nyaris Rp 0,-.

Bisnis yang berhasil dijalankan oleh Hannifa memang tampak sederhana, produk yang dihasilkan berupa merchandise kaos murah, tas dan boneka dengan brand “Kiwari”. Yang membedakan produk ini dengan produk lain di pasaran adalah keberhasilan Hannifa dalam mengangkat ide kenusantaraan kedalam produk-produk yang dihasilkannya. Dan hal itulah yang pada akhirnya menjadikan kekuatan dari bisnis milik Hannifa yaitu “Kiwari”. Khusus untuk produk boneka, gerakan Hannifa sudah terbilang berani karena selama ini boneka-boneka yang beredar di Indonesia adalah produk impor.

Memulai bisnis dengan modal kecil yang nyaris Rp 0,- membuat Hannifa harus berpikir lebih keras dan kreatif dalam mencari cara agar bisnis yang dijalankan dapat terus eksis. Dengan modal kecil yang hampir nol rupiah mereka tetap memberanikan diri dengan mulai mencari klien yaitu dengan tim produksi penjahit kaos murah yang berasal dari daerah industri di kota Bandung yang pada saat itu hampir bangkrut atau gulung tikar.

Dengan sumber daya yang terbatas, awalnya Hannifa belum mampu untuk menghasilkan produk merchandise dengan value nusantara, karena pada prinsipnya bisnis yang dijalankan biarlah jalan terlebih dahulu saja, apapun resikonya. Namun dengan kerja keras dan keuletan akhirnya mereka bisa berhasil mewujudkan idenya pada waktu masih kuliah, yaitu merealisasikan kenusantaraan kedalam produk-produknya.

Tahun 2013 merupakan tahun kedua dimana perusahaan mereka berdiri dan merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi hannifa dan rekannya. Saat ini mereka sudah memiliki mitra dengan 3 vendor yang menjading kurang lebih 15 orang tenaga kerja yaitu penjahit kaos murah atau tempat bikin kaos, penjahit boneka dan tas.

Bisnis kami juga sudah mendapat kepercayaan dari sebuah badan baitul maal, yaitu sebuah investasi untuk membantu meningkatkan produktivitas kami yang juga untuk merealisasikan konsep produk bernilai nusantara sesuai dengan mimpi sebelumnya. Dan yang paling terpenting dan kami syukuri dalam hal ini adalah kepercayaan dari para klien, sehingga membuka peluang bisnis pada kerja sama yang lebih besar lagi.

Semoga kisah sukses Hannifa Fitria dengan bisnis modal kecil yang dijalankannya bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin terjun ke dunia bisnis namun masih bingung dengan minimnya modal usaha yang dimiliki. Salam sukses!

Sumber: bisnisukm.com
Sumber Gambar:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLRNmhV5IsxKxz3O8zr3zEJSpPy3QP1CECFtzGcpya5SAkEpTXhrrDKRFkYcn0p0rLy3Fd2EDe4f0vWKUhDmhIMCE9xMH4d0GJuYHiscf2EgZo7HtI8WskrHW8pr9MdVDc23kL0iRNcVsa/s1600/IMG_5346-15-a.jpg
-
Dunia medis Indonesia boleh berbangga hati atas sepak terjang Gamal Albinsaid. Pasalnya, dokter muda yang satu ini berhasil meraih penghargaan dari Kerajaan Inggris karena program yang diluncurkannya.

Di awal tahun, pada 31 Januari 2014, Gamal meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014. Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Unilever dan Cambridge University ini merupakan kehormatan dan Pangeran Charles kepada entrepreneur muda yang peduli pada sumber daya yang berkelanjutan.

Alhamdulillah, saya mampu meraih penghargaan tersebut berkat kontribusi besar masyarakat dan juga tim saya selama ini. saat itu, saya mendirikan sebuah klinik yang sistem pembayarannya menggunakan asuransi dengan premi sampah,” katanya seperti dikutip dari Studentpreuneur, Kamis (11/12/2014).

Artinya, setiap masyarakat yang ingin berobat ke klinik namun tak memiliki uang dapat menggantinya dengan mengumpulkan sampah. Sampah yang dibawa ke klinik memiliki nilai Rp 10.000 yang dapat digunakan untuk berobat.

Program penghargaan internasional tersebut digelar untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia agar dapat menyelesaikan isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Penghargaan ini juga mengundang wirausaha yang berusia 30 tahun ke bawah untuk memberikan solusi yang menginspirasi, praktis dan jelas untuk membantu mewujudkan sustainability living.”Program saya terpilih menjadi yang terbaik karena dalam waktu yang bersamaan menyelesaikan dua masalah sekaligus, yaitu menangani masalah sampah untuk menyelesaikan kesehatan,” ujarnya.

Gamal mengatakan, semua ini berawal dari sebuah kisah nyata di mana saat itu ia menyaksikan sebuah berita yang membuatnya sangat terharu. Betapa tidak, saat itu ada salah satu media massa yang memberitakan bahwa terdapat seorang anak bernama Khaerunissa yang usianya masih tiga tahun harus menghembuskan nafas terakhir.

Tragisnya, anak tersebut meninggal di atas gerobak ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pemulung dengan penghasilan sehari-harinya hanya Rp 10.000. Sejak saat itu, Gamal akhirnya memutuskan untuk berbuat sesuatu kepada masyarakat dalam hal berobat.

Artinya, menurut Gamal, masyarakat harus tetap mendapat pelayanan kesehatan dengan cara apapun. Akhirnya muncul sebuah ide untuk mengumpulkan sampah di mana hasilnya nanti dapat digunakan untuk berobat.

Tapi, hal ini tentu tak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, ia pun mengajak warga setempat dan memberikan sosialisasi terkait klinik sampah ini. “Klinik Asuransi Sampah adalah sistem asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan semangat gotong royong melalui pembayaran premi dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan kesehatan masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, warga cukup menyerahkan sampahnya kepada Klinik Asuransi Sampah senilai Rp 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai `Dana Sehat` dengan Metode Takakura dan daur ulang.

Dana Sehat tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi, karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan.

“Dengan sistem ini, kami menghimpun potensi atau sumber daya yang ada di dalam masyarakat itu sendiri lalu mengembalikan sebagai akses pelayanan kesehatan holistik serta mampu dalam pengelolaan pembiayaannya,” jelasnya.

Sumber : detik.com
Sumber foto : detik.com
-
Jakarta - Uang dibutuhkan semua manusia modern untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk memperoleh uang, seseorang bekerja pada orang lain atau membuka usaha sendiri. Tetapi, seringkali uang yang didapatkan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup.

Beragam sebab uang yang didapatkan tidak mencukupi kebutuhan hidup. Misalnya, karena harga barang-barang semakin tinggi atau karena semakin banyaknya barang-barang yang dibutuhkan.

Untuk itu, adakalanya seseorang memikirkan sebuah peluang usaha agar memiliki uang tambahan. Tentu, peluang usaha yang dipikirkan adalah usaha sampingan di luar pekerjaan sehari-hari.

Dilansir oleh PTMoney pada Sabtu (3/1/2014), berikut adalah 10 peluang usaha yang mungkin dapat Anda lakukan sebagai usaha sampingan di tahun 2015 ini :

1. Pengajar renang
Terkadang uang bisa datang dari hobi. Untuk mencari uang tambahan, Anda juga dapat memaksimalkan hobi yang Anda miliki, misalnya berenang. Tentu banyak orang yang masih belajar berenang dan membutuhkan seorang pengajar. Disinilah peluang usaha Anda untuk menghasilkan uang tambahan.

2. Blogging
Kesukaan Anda dalam dunia tulis menulis di Blog ternyata juga merupakan peluang usaha yang baik untuk datangkan uang tambahan. Jika Blog yang Anda kelola sudah tenar, akan lebih mudah menghasilkan uang dari sana. Misalnya, dengan menyediakan tempat iklan, menjual buku sendiri, menyediakan jasa seperti desain Blog atau pembuatan Blog serta menjual theme atau plugin.

3. Desain logo
Jika Anda cukup baik dalam Photoshop, CorelDRAW atau software sejenis, maka cobalah untuk membuat beberapa uang dengan menawarkan desain logo. Hal ini dapat dimulai dari orang-orang terdekat Anda.

4. Bisnis online
Tidak diragukan lagi, bisnis online menjadi tren yang cukup signifikan dalam menambah uang tambahan. Ada yang menjadikannya sebagai usaha utama, ada yang hanya menjadikannya sebagai usaha sampingan. Anda dapat mencoba cara ini.

5. Cuci mobil atau motor
Anda memiliki halaman rumah yang cukup besar? Cukup untuk beberapa kendaraan? Kalau ya, peluang usaha yang terbuka adalah usaha cuci mobil atau motor. Anda bisa menawarkannya ke tetangga dahulu dan hanya dibuka pada akhir pekan saat Anda di rumah.

6. Guru les
Selain memanfaatkan kerja fisik, kerja intelektual juga dapat menjadi usaha sampingan Anda. Jika Anda memiliki pengetahuan tertentu, entah itu matematika, fisika atau bahasa Inggris misalnya, Anda dapat membuka les privat di akhir pekan di rumah Anda. Atau, Anda juga bisa melamar ke bimbel untuk menjadi salah satu pengajar.

7. Jual minuman di hari Minggu
Ini adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Siapa yang tidak membutuhkan air minum setelah berolahraga di hari Minggu? Semua orang tentu butuh. Nah, jika Anda ada di tempat olahraga dan menjual air minum, bisa dipastikan dagangan Anda cepat laku.

8. Broker tiket
Beberapa orang malas untuk mengantri untuk mendapatkan sebuah tiket, entah itu tiket pertandingan ataupun tiket transportasi seperti kereta api. Anda bisa memanfaatkan kemalasan tersebut sebagai peluang usaha untuk datangkan uang tambahan.

9. Asuh bayi
Di akhir pekan, biasanya pasangan yang baru saja memiliki anak cukup enggan untuk membawa anaknya dalam kencan mereka. Ini adalah peluang usaha Anda. Anda bisa menawarkan jasa untuk mengasuh bayi selama pasangan tersebut pergi berkencan. Tetapi tentu, peluang usaha ini pada awalnya hanya bisa ditawarkan pada orang yang telah Anda kenal.

10. Kos-kosan
Punya rumah yang cukup besar dan ada ruangan ekstra? Mengapa tidak anda sewakan? Ini adalah peluang usaha sampingan yang cukup baik. Ditambah, Anda tidak perlu lagi melakukan apapun.

Sumber: bisnis.liputan6.com
Gambar: bisnis.liputan6.com
-
Inspirasi dalam berkarya dapat datang dari mana saja dan sering dalam kondisi yang tidak terduga. Seperti yang dialami Roni Dwi Wijayanto, perajin lampu hias berbahan bambu ini.

Warga Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini memulai usahanya itu sejak dua tahun silam. Sebuah usaha yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Suami dari wanita bernama Sunarti ini, menuturkan, ide membuat kerajinan bambu itu datang begitu saja saat dia sedang makan di dapur rumah sederhananya di kampung. Saat makan itu ia sembari menunggui nyala api tungku berbahan bakar aneka kayu yang tidak terpakai.

Suatu kali dia memegang potongan bambu untuk dimasukkan tungku. Dia gelisah. Merasa sayang dengan potongan bambu yang akan menjadi abu itu. Dia kemudian berpikir bagaimana memanfaatkan potongan-potongan bambu yang melimpah itu.

"Akhirnya saya mencoba membuat lampu hias," kata Roni, Senin (18/8/2014).

Hasil karyanya itu mendapat perhatian dari lingkungan sekitarnya dan banyak yang memesannya. Dia kemudian membuat lampu hias itu secara massal.

Seiring berjalannya waktu, dia mengembangkan usahanya dengan menambah ragam bentuk dan model. Hasil kerajinannya menjadi cukup populer seiring dengan kerap mengikuti pameran UKM.

"Salah satu pemasarannya ya lewat pameran-pameran," imbuh pria lulusan STM ini.

Hasil kerajinan tangan itu ia lego ke pasaran antara Rp 25.000 hingga Rp 250.000. Saat ini sudah ada 10 macam model lampu hias duduk maupun lampu hias tempel.

"Sebulan, setidaknya saya mengumpulkan uang Rp 5 juta dari usaha ini," imbuh ayah Mita (5) dan Afika (2) ini.

Berkat kerajinan tangannya itu, dia kini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebelumnya dia mengaku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kuli angkut pasir pun pernah dia lakukan.

Saat ini mimpi besarnya adalah mengembangkan usahanya semakin besar. Selain bahan bambu yang cukup banyak, jumlah tenaga kerja di desanya juga melimpah. "Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," ujarnya.

Selain berkutat pada lampu hias, dia juga tengah melebarkan usahanya di bidang pembuatan bangunan kafe maupun rumah makan. Dia tetap berkutat pada bahan bambu untuk bangunan-bangunan itu. Selain itu juga ada kursi bambu.

"Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," pungkasnya.

Sumber & Gambar: Kompas.Com
-
Produk e-fishery ciptaan Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy merupakan teknologi tepat guna dan menawarkan solusi bagi pembudidaya ikan. Produk ini merupakan alat pemberi pakan otomatis bagi ikan dan biota perikanan lain. Pemberian pakan ini dapat dilakukan secara remote dengan hanya melalui perangkat ponsel atau tablet yang terhubung dengan internet. Inovasi ciptaan Gibran ini bertujuan semata-mata untuk mengembangkan bisnis ikan air tawar di Indonesia.

Terakhir, e-fishery memenangkan kompetisi Get In The Ring dan memenangkan uang Rp 1,2 juta dolar, atau Rp 12 miliar. “e-Fishery adalah sistem cerdas pemberi pakan untuk budidaya ikan dan udang. Alat ini bisa memberi pakan secara otomatis, mendeteksi nafsu makan ikan, serta mencatat dan melaporkan performa pemberian pakannya melalui internet,” katanya.

Alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang ini tidak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat. Selain itu, alat ini juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time. Penggunanya dapat mengakses data pemberian pakan kapanpun dan dimanapun mereka berada secara lengkap. Tidak ada lagi masalah over-feeding, pemberian pakan ikan yang tidak teratur atau pakan yang diselewengkan sehingga berdampak pada kerugian.

“Berawal dari memulai bisnis sebagai petani ikan lele, saya pun menyadari adanya permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan, khususnya dalam pemberian pakan ikan. Dari hal inilah saya membaca sebuah peluang untuk sektor inovasi sistem pendukung di bisnisnya,” ujarnya.

Tantangannya dalam pengembangan bisnis ini ada di proses riset, manufaktur, dan pengenalan teknologi baru ke masyarakat. Seiring berjalannya waktu, e-Fishery pun banyak melakukan penyempurnaan demi menjaga kualitas produk. Dengan mengusung konsep user friendly, pengaturan untuk e-Fishery sangat mudah dan bisa digunakan oleh siapapun. e-Fishery juga dapat memberikan pakan dengan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan, dengan penjadwalan yang mudah dan teratur.

Bahkan, e-Fishery memiliki fitur real-time monitoring yang dapat memberikan laporan pemberian pakan secara langsung yang dapat diakses kapanpun dan di manapun melalui perangkat Anda. Oleh karena itu, inovasi harus terus dilakukan setiap saat. “Sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang menggunakan dan terjual di atas 150 unit,” jelasnya.

Ia mengatakan, setiap produk memiliki fitur yang berbeda-beda. Seperti ukurannya saja sudah berbeda-beda. Kemudian ada yang level basic, ada juga software yang berbeda, dan sebagainya. Sedangkan harga jualnya di antara Rp 7-9 juta. “Perkembangannya bagus, trennya positif. Dari segi permintaan pasar juga terus naik, dan teknologinya semakin berkembang. Tapi seperti kata Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan RI bahwa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai pihak asing yang mencari ikan di Indonesia justru mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada orang Indonesia sendiri,” tambahnya.

Kekuatan dari setiap aktivitas kita ada di visi dan niat. Kebanyakan pengusaha muda memutuskan untuk berhenti saat menghadapi kegagalan karena visi dan niatnya yang kurang kuat. Saat visi kita cukup besar dan niat kita jernih, semua tantangan justru akan menjadi energi,” ujarnya.

Sumber: detik.com
- -